Jumat, 10 Februari 2012

Islam Lebih Religius Daripada Pemeluk Agama lain

(CNN) - Setiap agama memiliki pengikut sejati dan yang ragu-ragu, yang saleh dan yang pragmatis, tetapi bukti-bukti baru menunjukkan bahwa umat Islam cenderung lebih berkomitmen terhadap keimanan mereka daripada pemeluk agama lainnya.

Pemeluk Islam jauh lebih mungkin dibandingkan orang-orang Kristen dan Hindu untuk mengatakan bahwa keimanan mereka adalah satu-satunya jalan yang benar menuju surga, menurut sebuah survey global baru-baru ini, dan mereka lebih cenderung mengatakan bahwa agama mereka adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka.

Muslim juga memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengatakan agama mereka memotivasi mereka untuk melakukan perbuatan baik, kata survey, yang dirilis pada muslim panas oleh Ipsos Mori - sebuah perusahaan riset Inggris yang melakukan jajak pendapat di seluruh dunia.


Islam adalah agama terbesar kedua di dunia - setelah Kristen dan diatas Hindu di peringkat ketiga.Dengan sekitar 1,5 miliar pengikut dan terus meningkat.

Tapi sementara tidak ada keraguan tentang pentingnya Islam, para ahli memiliki perbedaan teori tentang mengapa Muslim terlihat lebih religius dibandingkan dengan pemeluk agama lainnya di seluruh dunia - dan pandangan kontras pada ketakutan terhadap ketinggian komitmen muslim terhadap keimanan mereka.

Salah satu penjelasan dalam masalah ini kata AZyumardi Azra, seorang ahli tentang Islam di Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Banyak muslim semakin mendefinisikan diri mereka berbeda dengan apa yang mereka lihat sebagai Kristen Barat, kata Azra, Direktur pasca sarjana Universitas Islam Negeri di Jakarta.       

"Ketika mereka dihadapkan dengan barat yang mereka anggap secara moral menurun, banyak umat Islam merasa bahwa Islam adalah jalan hidup terbaik. Islam bagi mereka satu-satunya keselamatan," jelasnya.

Perasaan itu telah menjadi semakin kuat sejak serangan 11 September, karena banyak muslim percaya ada "peningkatan konflik antara Islam dengan apa yang disebut sebagai Barat," katanya.

"Sayangnya keterikatan yang semakin meningkat di kalangan Islam ini secara umum telah digunakan dan disalahgunakan oleh orang-orang-orang Islam yang berpikiran literal dan para jihadis untuk tujuan mereka sendiri."

Tetapi para ahli lain mengatakan bahwa komitmen keagamaan tinggi tidak selalu mengarah pada kekerasan.

"Menjadi lebih religius tidak selalu berarti bahwa mereka akan menjadi pelaku bom bunuh diri," kata Ed Husain, seorang mantan Islam radikal yang kini menjadi pakar Timur Tengah di Council on Foreign Relations di New york.

Bahkan Husain berpendapat bahwa pendidikan agama "bisa menjadi penangkal" untuk radikalisme. Orang yang paling mungkin menjadi radikal Islam, katanya, adalah mereka yang dibesarkan tanpa pendidikan agama dan datang pada Islam kemudian, sebagai "Islam keturunan"."

Muslim  yang dibesarkan dengan landasan agama lebih mampu menahan distorsi Islam yang ditawarkan oleh perekrut untuk menjadi radikal. Beberapa ahli sepertai Husain berpendapat membuat mereka cenderung untuk beralih pada kekerasan. Tapi dia setuju bahwa umat Islam sangat lekat pada keimanan mereka, dan mengatakan alasannya terletak pada agama itu sendiri.

"Muslim memiliki mindset bahwa kita memiliki kebenaran terakhir," kata Husain. Muslim percaya "Yahudi dan Kristen datang setelah kita dan Muhammad adalah nabi terakhir," kata Husain, yang mana bukunya yang berjudul "The Islamist" menggambarkan pengalamannya dengan para radikal. "Nabi kami bertujuan untuk meniadakan (hal yang batil) pesan dari para nabi sebelumnya."

Ketinggian komitmen Muslim pada Islam bukan hanya karena faktor teologi dan peristiwa masa kini, melainkan juga pada pendidikan dan sejarah, demikian kata para ahli lainnya.

"Dimana agama terhubung pada lembaga-lembaga negara, dimana agama tertanam sejak kecil, anda akan medapatkan perasaan bahwa "Jalan saya adalah satu-satunya jalan" kata Fiyaz Mughal, direktur Faith Matter, sebuah organisasi resolusi konflik di London.

Hasil survey yang meliputi dua negara dengan hubungan kuat antara negara dan agama: Muslim di Saudi Arabia, yang menyebut dirinya sebagai penjaga dua tempat suci Islam, Mekkah dan Madinah. Dan Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Negara selanjutnya yang mayoritas Muslim dalam penelitian ini adalah Turki, yang memiliki hubungan yang sangat berbeda dengan agama.Turki didirikan setelah Perang Dunia I sebagai negara hukum sekuler.Tetapi meskipun generasi mencoba untuk memishahkan agama dan negara, Turki sekarang diatur oleh partai yang berbasis Islam, AKP.

Pengalaman Turki menunjukkan betapa sulitnya untuk bisa melepaskan pemerintahan dengan agama di negara-negara mayoritas Muslim dan membantu menjelaskan komitmen muslim pada agamanya, kata Azyumardi Azra, pakar dari Indonesia.

Dia mencatat bahwa tidak ada "Pencerahan" dalam Islam seperti di Eropa pada abad 17 dan 18, melemahnya hubungan gereja dan negara di banyak negara-negara Kristen.

"Komunitas Muslim tidak pernah mengalami sekularisasi yang intens yang terjadi di Eropa dan Barat pada umumnya, kata Azra." Jadi Islam masih masih sangat kuat.

Tapi hal tersebut tidak hanya disebabkan hubungan antara masjid dan negara di banyak negara mayoritas Muslim yang mengikat keimanan mereka, kata Professor Akbar Ahmed, seorang mantan diplomat Pakistan yang telah menulis sebuah buku tentang Islam di seluruh dunia.

Seperti halnya orang Kristen memakai "apa yang akan Yeusu Lakukan?" begitu juga banyak Muslim merasakan hubungan pribadi yang mendalam dengan pendiri iman mereka, Nabi Muhammad, katanya.

Nabi Muhammad bukan saja tokoh historis untuk mereka, melainkan insprirasi pribadi bagi ratusan juta orang di seluruh dunia saat ini.

"Ketika serorang Muslim berpuasa atau diminta beraman dan berperilaku dalam cara tertentu, mereka selalu teringat contoh yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad berabad-abad yang lalu," kata Ahmed, penulis buku " Journey Into Islam: Krisi Globalisasi."

Bukunya didasarkan pada wawancara dengan Muslim di seluruh dunia, dan satu hal yang dia temukan bahwa kemanapun ia pergi yaitu kekagauman pada Muhammad.

"Salah satu pertanyaannya adalah "Siapa panutan Anda? Dari Maroko sampai Indonesia, jawabannya adalah nabi, nabi, nabi, kata Ahmed, Ketua Studi Islam Ibnu Khaldun, di American university di Washington.

Tetapi sementara Ahmed melihat pola yang sama di seluruh dunia Islam, Ed Husain, seorang mantan radikal, mengatakan hal itu penting untuk memahami keragamanan juga.

"Tidak ada religiusitas monolitik - Muslim di Indonesia dan Saudi Arabia mengikuti versi yang berbeda tentang Islam." kata Husain. "Semua yang kita lihat (dalam survey) adalah kepatuhan terhadap Iman."

Ilmuwan politik Farid Senzai, direktur penelitian di Institut Kebijakan Sosial dan Pemahaman di Washington, mengangkat pertanyaan tentang temuan survei.

"Lihatlah negara-negara yang disurvey - Arab Saudi, Indonesia dan Turki," katanya. "Ada sekitar 300 juta Muslim di tiga negara, 9 (yang membuat) sekitar 20 % dari Muslim global.

Islam "sangat penting" di Arab Saudi, katanya.

"Tapi di Tunisia dan Maroko anda dapat memiliki hasil yang berbeda.Akan lebih baik jika mereka memilih lebih banyak negara negara Arab dan memiliki sedikit keragaman ," kata Senzai.

PAra ahli jajak pendapat, Ipsos Mori, melakukan survei bulanan di 24 negara, tiga diantaranya mayoritas Muslim - Turki, Indonesia dan Saudi Arabia.Negara-negara lain berkisar dari India sampai Amerika Serikat, dan dari Meksiko sampai Korea Selatan.

Dalam survei yang dirilis pada bulan Juli, sekitar enam dari 10 Muslim dalam survei tersebut megnatakan bawha agama mereka adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan, sementara hanya seperempat dari Hindu dan dua dari 10 orang Kristen yang menyatakan tentang klain tentang keyakinan mereka sendiri.

Lebih dari sembilan dari 10 Muslim mengatakan iman mereka sangat penting dalam kehidupan merkea, sementara 86 % umat Hindu dan 66 % bagi orang Kristen.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

(c)2009 indahnya islam. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger